Skip navigation

Tag Archives: perjalanan

sunrise gunung prau

sunrise gunung prau

Perjalanan kali ini adalah perjalanan subtitusi. Mencoret Merbabu dan menuliskan Prau. Bersama dengan teman Pawitikra saya, kami berdua merancang segala persiapan untuk ke sana. Bermodal googling dari Jogja-Wonosobo-Pathak Banteng-Prau. Semuanya kami mulai dari ketidaktahuan yang sempurna. Bermodal teori, menuju ke pengalaman yang sesungguhnya. Ini adalah perjalanan pertama saya dengannya menuju tanah tinggi itu. Dia yang pernah mencapai tanah impian saya (sebut saja dia gunung tertinggi di Jawa), dan saya yang lebih sering merepetisi perjalanan.

Namun kali ini lain ceritanya, Bersama dengan rekan baru pada tanah yang baru. Bermula dari hanya perjalanan berdua, akhirnya berangkatlah kami tiga wanita menuju Wonosobo. Dari pagi menembus kabut di selatan-barat Bantul menuju utara-timur Bantul. Diberi bekal pengganjal gastro di pagi hari yang sangat jarang saya lakukan, lantas menujulah kami ke arah utara-barat Jogja. Menembus kota, melewati batas antarkabupaten.

Bertambah satu anggota, menumpang kendaraan umum, menuju tanah tujuan. Perjalanan yang lebih saya warnai dengan pejaman mata, dan akhirnya sampai juga kami di pos pendakian. Mengisi bekal dan membeli bekal untuk perjalanan ke atas.

Ketiadaan pengetahuan yang cukup, kekurangan navigasi akan medan terjang yang akan kami tapaki, membuat perjalanan ini layaknya dora yang selalu berrtanya, namun kami tidak menahu akan jawabnya. Tapakan pertama, menuju jalan mula pun kami bahkan tak tahu. Tajamkan indera, gerakkan radar. Ya, setapak itu adalah yang baru saja kami lihat orang berduyun-duyun kelelahan sembari ditemani beban di punggung mereka. Usailah pertanyaan kami.

Segeralah kami berjalan menuju jalan yang benar itu, ditandai dengan anak panah merah. Namun, belum juga sampai 5 menit kami berjalan, kami telah disapa penduduk lokal yang mengatakan bahwa jalan kami keliru.hahaha. Diantarlah kami menuju jalan kebenaran, menuju rumah terakhir yang lantas mendaki untuk menuju pos 1.

Pendakian pun dimulai, dan gugurlah satu anggota tim kami. Berdua, perlahan, ditemani rintik hujan, proses langkah demi langkah itu pun dimulai. Tiada bertemu dengan rekan sejawat yang naik atau pun turun, mutlaklah Prau seolah menjadi hanya milik kami berdua saja,

Pelan, pelan, pelan.

Rintik, rintik, rintik.

Kami pun melewati pos 1,2, dan 3. Masih juga bersama rinai itu, yang dengannya Ia tumbuhkan tanaman-tanaman untuk kita hidup. Tampaklah 2 rumah nomaden telah berdiri. Sapaan hangat selalu menyambut orang asing di tempat asing yang sudah bagai keluarga saja. Mengetahui bahwa hanya dua makhluk kecil yang akan mendirikan rumahnya, bala bantuan pun datang dari mereka yang menyapa. Dengan segala kebajikan dan bantuannya, kami ucapkan terima kasih. Apalah daya kami tanpa bantuanmu saudara. Bahkan memori ini pun mengalami pendangkalan ingatan akan bagaimana harusnya ruamh itu didirikan. Hah, sudah berapa lama bahkan saya tak pernah menyentuh rangkaian kubah itu.

1.1Membereskan segala hal untuk dimasukkan ke dalam rumah. Ah ya, rumah kami telah jadi. Rumah besar yang hanya akan diisi oleh dua orang yang sejatinya mampu dipenuhi tiga kali lipat dari jumlah kami. Akan menjadi malam yang penuh gemeletuk gigi sepertinya.

Mencoba menangkap siluet senja-Mu di barat. Namun, apalah daya kuasa ini dibandingkan kuasa-Mu yang mengetahui dan memiliki segala-gala apa yang ada di langit dan di bumi ini. Menikmati kabut tipis di tanah tertinggimu. Cukuplah, dan turunlah kami menambah asupan gizi.

Sembari menikmati minuman hangat, datanglah serombongan pendaki dari Jakarta. Seperti terdampar di sebuah gunung yang masih di Jawa namun yang terdengar adalah bahasa nasional.

Malam yang terlalu semilir. Namun, inilah yang saya sukai dari malam-malam saya di gunung. Pekat, hening, dan bintang gemintang yang seolah sengaja ditumpahkan-Nya untuk memenuhi angkasa. Di bawah pun dia ada, namun cahaya yang terlalu banyak itu telah menutupinya. Kehadirannya adalah alfa di sana, tapi di gunung, semua seolah hadir untuk menunjukkan diri dan berebut kursi di sana. What a night!

Di bawah langit-Mu yang tiada batas itu dan di atas bumi-Mu yang Kau tinggikan itu, mengalirlah banyak cerita di antara masa-masa yang kami habiskan di kota Tengah dan di kota Barat. Mengalirlah cerita di kala kami masih bocah mencari ilmu di masa awal peralihan. Mengalirlah cerita tentang hari berikutnya yang akan teman saya lalui jauh di daratan negeri bentukan Romulus. Ah, betapa waktu terus berlalu. Kekahawatiran kami di waktu lampau, telah terlewati, masa kini yang telah terjadi, pada akhirnya akan menjadi kenangan juga. Bukankah kita sebenarnya tak pernah memperjuangkan masa depan? Bukankah kita pada akhirnya akan berjuang untuk kenangan yang akan kita ingat nantinya?

Dan, menutuplah mata. Pagi hadir sebagaimana ia akan hadir tanpa kita khawatirkan. Bukankah akan selalu begitu? Bukankah adanya kita hari ini adalah bukti bahwa kita pernah melampaui banyak hal meyenangan dan menyedihkan di masa dulu?

ketika jingga di prau menyapa

ketika jingga di prau menyapa

Membuka mata dan seolah kami seperti dipindahakan dari tempat terakhir kami. Tanah yang sebelumnya senyap, seolah berubah menjadi kampung penuh rumah nomaden yang dihadirkan dalam semalam. Ah, selalu saja ada efek film itu. Ah, selalu saja ada orang-orang yang hadir ingin menaklukkanmu.

Apakah orang-orang ingin menjadi seperti Sir Edmund Hillary? Yang tatkala untuk pertama kalinya menginjakkan kakinya di tanah tertinggi di bumi berteriak “Kita telah berhasil menumbangkan si bajingan itu!”, sembari mengambil foto dan mengencingi puncak. Maukah kita menjadi seperti itu? Ataukah kita ingin menjadi seperti Sherpa Tenzing Norgay, yang berkata “Aku bersyukur, ya Qomolangma (sebutan masyarakat Tibet untuk Everest yang berarti Dewi Ibunda Suci Alam Semesta)”. Mau menjadi yang manakah kita?

Ah, sudahlah. Toh tiap orang memiliki tujuannya masing-masing. Bahkan saya pun tidak tahu tujuan saya hadir si situ. Yang saya tahu, saya menyukai perjalanan menuju tanah tinggi. Setelahnya, biarlah perjalanan itu yang memberikan takdirnya untuk saya.

Ratusan mata menanti hadirnya surya yang pelan-pelan menyapa. Hampir semua mengacungkan alat perekamnya. Saya pun juga. Namun, melihat semuanya menanti dan membuat kehadirannya sebagai latar pusat diri kita, saya pun hanya memandang kegaduhan itu sesaat. Saya bahkan hanya sebatas mampu ‘mencoba’ untuk ada di sana. Saya lebih terhanyut dalam euforia komunal itu. Mengabadikan dalam perekam namun tidak benar-benar menikmati apa yang sedang terjadi. Betapa naifnya saya.hahaha.

Dan saat pertunjukan usai, yakni Sindoro, Sumbing, Merbabu, Merapi, dan Lawu dengan cahaya yang setiap detiknya berubah dari gelap menuju semburat oranye lantas berubah menjadi terang, usailah kumpulan orang-orang itu. Menyebarlah tiap-tiapnya di antara bukit teletabis yang menghampar.

Kami pun bergegas mencari sesuatu yang tertunda kemarin. Menuntaskannya sebelum kembali turun. Danau warna Dieng dan Gunung Slamet di sebelah barat adalah pemandangan di sisi lain dari kelima puncak tadi. Sungguh sebuah pagi yang menakjubkan. Selalu akan menjadi sebuah hari yang akan selalu saya rindukan.

Bergegaslah kami. Mengepak segalanya kembali dalam ransel kami. Berbagi beban untuk kami bawa kembali. Perjalanan turun ini ramai sekali. Dipenuhi dengan rombongan yang bahkan datang setelah kami.

Sampailah kami. Dan segeralah kami bertemu dengan salah satu anggota yang menginap di bawah. Segaralah kami menapaki kendaraan beroda empat itu, yang akan membawa kami kembali. Kelelahan dan kebahagiaan yang telah dicampuradukkan itu lantas membawa kami berdua tertidur pulas tanpa menghiraukan apa yang terjadi. Hingga teman kami yang terlihat sangat manusiawi sedangkan kami yang terlihat entah seperti apa, menceritakan apa yang didengarnya dari kepolosan anak yang duduk di depan kami.

“Mak, mak, mbak-mbake kuwi ki wong edan yo?”

(Ibuk, ibuk, mbak-mbaknya itu orang gila ya?)

“Dudu le, mbak-mbake kuwi lagi wae mbar munggah gunung.”

(Tidak nak, mbak-mbaknya itu baru saja naik gunung)

hahaha. Sepertinya tampang kami memang sudah tidak manusiawi lagi. Hingga kepolosan seorang anak kecil itu pun tidak dapat membohongi realitas yang ada.hahaha. Andai saja kami mendengarnya langsung dek, kami pasti akan tertawa terpingkal-pingkal. Sayangnya kami tidak membawa kaca sehingga tidak bisa melihat seperti apa wujud kami.hahaha

Dan usailah perjalan ini saat kami menginjakkan kaki kami kembali. Usailah perjalanan itu. Kembali lagi ke peradaban. Kembali lagi ke kehidupan nyata 😀

4

Lantas, sebagaimana petrjalanan saya yang lain, saya selalu menandainya dengan angka. Inilah rekam jejaknya.

GUNUNG PRAU ~30-31 mei 2014

Berangkat

05.20 berangkat dari ujung selatan Bantul menuju ujung timur utara Jalanan masih sepi.

06.15 berangkat ke terminal jombor via ring road-dongkelan-pingit-jalan magelang

07.00 sampai di jombor. Parkir menginap.

07.20 berangkat naik bus jogja-magelang-semarang. Seat 2-3.@10ribu

08.10 sampai di tidar, naik bus jurusan wonosobo. Langsung berangkat. @20ribu.

*Lebih baik bayar pakai uang pas. Bisa dapat 15ribu atau 18ribu.

10.15 sampai di terminal mendolo wonosobo. Ke kamar mandi @2ribu, masyarakat yang ramah. Diberitahu turun kauman. sesuai hasil gugling.

10.33 kol kuning, @2ribu. Turun juritan.

10.50 juritan. Ganti mini bus ke arah patak banteng.

11.45 sampai di patak banteng Lapor ke basecamp. Mencatatkan nama perwakilan anggota. Untunglah saat itu kami naik bertiga, meskipun pada akhirnya hanya berdua. tapi setidaknya kami lolos dari peraturan bahwa pendakian yang dilakukan hanya oleh 2 orang harus ditemani guide lokal.

Pulang

08.10 turun

10.15 basecamp

11.05 naik bus arah juritan

12.00 juritan ganti kol kuning ke arah terminal

12.05 kol tidak masuk terminal, langsung naik bus ke arah magelang. Padahal niat bersih-bersih diri di terminal. Alhasil,hahahaha

12.05 ke arah magelang dari wonosobo. View sumbing. Ah, pengen meluk sumbing

14.10 terminal tidar. Makan soto seger @8ribu

14.35 naik bus ke arah jogja. Tapi ternyata si bus ini tidak kunjung jalan. Kita menunggu hampir 1 jam.

*tips: kalau mau naik bus dari terminal, mending nunggu di luar. Kalau si bus ini kira-kira udah mau jalan, baru deh masuk. Atau, mending nunggu di pintu luar. Busnya bakal lebih cepat akan jalan. Tempat duduk biasanya juga masih ada.

15.35 akhirnya berangkat. Setelah gerutuan yang lama dan keinginan untuk segera sampai rumah pun terpenuhi.

16.30 sampai di jombor. Segera turun dan sholat dulu di musholla-nya.

16.45 mengambil motor dari penitipan. 2ribu/hari. Tak peduli inap atau tidak.

16.50 menuju ke imogiri timur.

17.35 sampai rumah raras. Segera meluncur ke rumah

18.10 akhirnya tiba juga. Walau capai, tapi kalau senang. Maka yang lebih akan terasa adalah senang itu.hahahaha.

*semua photo adalah bukan milik saya pribadi. Ini adalah hasil jepretan rekan seperjalanan saya.

Advertisements

Bermula dari perbincangan iseng (menurut saya) dan saya anggap sebagai suatu candaan, yang berarti tidak akan terjadi dengan sungguh-sungguh, maka itu berarti angin lalu. (Terlalu sering merancang perjalanan menuju timur dan akhirnya gagal telah membuat saya skeptis dengan berbagai rencana perjalanan ke sana).

Namun, beberapa hari sebelum tenggat waktu diberikan,  pertanyaan itu datang kepada saya.

“Jadi naik?”

“Hah? Ke Lawu? Lha…waktunya mepet.”

Ya, benar. Saya itu bukan easy climber yang tanpa persiapan jauh-jauh hari akan mau naik ke gunung. Alhasil, saya minta pengunduran waktu. Minggu depan jawab saya.

Tim yang mulanya direncanakan berempat, akhirnya satu per satu mengundurkan diri dan ya…antara ingin naik dan bagaimana nanti di sana? Tapi, demi perjalanan mendaki itu, apa pun akan saya lakukan. Bukankah memang selalu begitu? hahaha.

Dan dengan penggantian personel yang dirombak total, jadwal pendakian yang digeser dari malam menjadi pagi, akhirnya berangkatlah 6 orang ke Lawu. Jika biasanya pendakian saya tidak akan jauh bersama tim bergerak memahami alam, maka kali ini keberangkatan saya bersama bapak pengajar saya, dua orang adik beliau, dan 2 orang teman adik beliau. Perfectly stranger.

Tapi, itulah nikmatnya menjadi orang asing. Kita akan mulai belajar dengan siapa kita berjalan, bagaimana harus menata diri, beradaptasi lagi, menjadi orang asing lagi.

Karena saya sangat suka menuliskan detak-detak jarum selama perjalanan, inilah apa yang mampu saya rekam saat berada di sana.

29 Maret 2014

08.00 dari daerah Jaten menuju Cemoro Kandang
09.30 Cemoro Kandang. Menitipkan motor dan persiapan.
09.45 Mencari makan, beli kebutuhan yang masih kurang, jalan ke Cemoro Sewu. Harusnya ada retribusi, tapi lanjut saja karena semua hal bisa dinegosiasikan 😛
10.00 Jalan dari Sewu dengan terengah-engah. Setelah pendakian terakhir di tahun 2012, fisik ini rasa-rasanya sudah terlalu asyik dengan dunia nyata yang tiada menguras tenaga.
11.20 sampai di pos 1 (1 jam 20 menit dari pos pencatatan). Ada warungnya. Menyediakan es teh, gorengan anget, aneka minuman, tempat berteduh full tikar. Oh..betapa nikmatnya. Tanpa harus bersusah payah, makanan dan tempat berteduh telah siap sedia.
11.35 jalan dari pos 1 menuju pos 2. Jalan mulai berbatu dan sedikit celah bertanah. Kanan kiri batu-batuan. Sudah mulai nyaman dengan keadaan perjalanannya.
13.10 sampai di pos 2 (1 jam 35 menit). Penuh manusia posnya. Ramai sekali. Duduk beristirahat dahulu sembari berusaha mengumpulkan kembali ceceran tenaga yang telah menguap.
13.30 berangkat dari pos 2 menuju pos 3.
14.30 sampai di pos 3 (1 jam). Makan siang yang sudah dibeli dari bawah tadi. Seloow dulu. Kita beristirahat dulu lah..
16.15 sampai pos 4.  ( 1 jam 15 menit). Medan bebatuan terjal. Pos 4 tidak ada rumahan. Hanya ada shelter untuk 1 tenda. Tapi ada spot untuk melihat pemandangan.
16.55 sampai di shelter besar dan bisa untuk ngecamp. Tapi tidak ada sumber air.
17.10 mulai jalan ke pos 5. Jalanan bagus untuk foto. Setapak panjang penuh bebatuan.
17.30 sampai di sendang drajat (1 jam 35 menit). Warung ada di sini. Pelanggan yang tiada henti datang silih berganti. Order minuman atau makan bisa di sini. Tempat luas untuk tidur. Tidur sini.

Menikmati sendang drajat di pagi hari dengan tempelan-tempelan stiker calegnya, matahari terbit yang telihat malu-malu tertutupi kabut, dingin pagi yang menusuk, lalu lalang para pendaki yang memenuhi warung kecil itu.

perjalanan

30 Maret 2014
06.10 berangkat ke warung mbok yem.
06.20 sampai sudah di warung tertinggi di Jawa atau mungkin di Indonesia.
06.45 menuju puncak ditemani kabut yang belum juga beranjak meninggalkan lawu
07.20 sampai puncak. Ramai sekali di atas. Penuh dengan orang-orang yang ingin mengabadikan momen di tempat yang tidak semua orang bisa mencapainya.

Pertanyaan saya, apakah makna tercapainya puncak saat pendakian itu? Memamerkan kedigdayaan karena berhasil di gunung? Menunjukkan supremasi di tanah tinggi? Atau terdiam karena tak mampu berkata jika pada akhirnya kamu mampu dan kamu bisa? Ataukah sujud tersungkur melihat betapa kecil, dan tak berdayanya kita di hadapan semesta-Nya? Ah, toh tiap orang memiliki tujuannya masing-masing.

07.30 bergerak turun ke bawah. Berhubung fisik saya masih oke, lari-larian dah..
07.40 sampai di warung mbok yem lagi. Beristirahat dahulu.
08.08 bergerak menuju house of bottle. Berfoto sebentar, lalu lanjut menuju pos 5. Pos 5 hanya sebentuk per3an jalan untuk menandakan arah mana yang bisa kamu ambil. Ini adalah pertigaan menuju berjalan di atas awan kata teman saya saat 8 tahun lalu saya menjejak tanah ini.
09.00 sampai di pos 4 (1 jam). Istirahat makan. Dan memori 8 tahun yang lalu saat pendakian bersama WHO pun menyeruak. Seolah ada pertunjukan layar tancap di dalam memori saya. Saya duduk dan ternganga bahwa waktu telah berlalu dengan cepatnya.
09.20 bergerak menuju pos 3.
10.00 sampai di pos 3 (40 menit). Perjalanan seringnya istirahat bukan di pos.
12.00 sampai di pos 2 (2 jam). Minum dan istirahat sebentar. Setelah melewati jalur turunan yang licin dan memaksa kaki untuk menahan beban dengan sangat.
13.00 pos 1 (1 jam). Ngesenek dulu, mengais-ais tenaga dulu. Dan, kaki ini pun mulai menunjukkan ketidakharmonisan dengan otak yang ingin segera sampai di bawah. Kesalahan fatal akibat terlalu berfoya-foya dengan tenaga yang tidak dikelola degan baik dari atas. Alhasil petaka berjalan menyemutlah yang terjadi.
14.00 (1 jam) sampai di base camp cemoro kandang dengan terengah-engah dan akhirnya, usailah juga..

wajah lawu

Itu adalah kisah saya di awal tahun ini. Banyak pemahaman saya telah berganti. Saat pendakian dan menemukan banyak warung dengan kemudahan bagi pendaki, saya begitu tertariknya bisa menikmati segelas es teh dan warung di puncak gunung. Tetapi, mendengar dan membaca cerita perjalanan yang lain, kemudian keasyikan itu sepertinya hilanglah sudah.

Buat apa kalau bahkan di tempat yang jauh pun, di tempat tinggi itu, bahkan kamu masih bisa menikmati kenikmatan seperti di bawah? Itu bukan lagi gunung sunyi yang di sana kamu harus berjuang dan mencoba bertahan di tempat asing. Kamu bahkan tidak bisa menemukan keasliannya lagi jika semua diubah untuk kemudahan manusia. Lantas, saya merindu Lawu yang 8 tahun lalu itu. Yang dengan kesunyiannya menghadirkan sensasi berjuang dan bertahan hidup. Bukan kenyamanan, tapi ketidaknyaman. Buat apa kita berjalan jika kita mencari kenyamanan? Bukankah itu sudah kita peroleh di bawah? Bukankah kita mendaki untuk menemukan hal lain? untuk menikmati apa yang tidak bisa kita nikmati di bawah? Menikmati ketidaknyamanan dan keterasingan? Ah, entahlah… Mungkin saya hanya ingin dia ada dan hidup sebagaimana dia semestinya dalam pikiran saya.

*Suatu tempat yang sama, dengan waktu dan orang yang berbeda. dituliskan kembali di surakarta dan jakarta, oktober 2014*