Skip navigation

Category Archives: turbulensi

disequilibrium keabstrakan yang menampakkan wujud dalam rangkai kata

​Dan ketika kerisauan-kerisauan itu berhimpun dalam sebuah koloni, lantas kau tersuruk dan tersungkur. Hei, hei, jiwa yang lemah. Mampukah kau menghitung nikmat-Nya? Mampukah kau memikirkan anugerah-Nya? 

Bagaimana jika satu sarafmu terputus? Bagaimana jika satu sinaps saja tak menghantarkan impuls-impuls itu dengan baik? Bagaimana jika tiba-tiba datang sebuah warta kehilangan? Bagaimana jika sebuah bencana mengoyak dunia kecilmu? Bagaimana jika kenangan-kenangan lalumu menghantuimu sekarang? Bagaimana jika kau tak mampu tertawa atau menangis? Bagaimana jika kau mendapat sayatan kecil pada jarimu? 

Bagaimana jika? Bagaimana jika? Bagaimana jika? 

Pada kenyataannya, kau sedang tidur-tidur di atas buaian dipanmu, sedang menikmati buku bacaanmu dalam turbulensinya sembari menyesap coklat hangat yang kau buat sendiri beberapa menit yang lalu. Lantas, masihkah kau perlu risau? Jika segalanya telah ditetapkan-Nya, jika semuanya telah dituliskan-Nya dan kau tinggal melakoninya, lantas kenapa pula tak kau ulaskan bibirmu ke kanan dan ke kiri? 
03.10.16.  09.37pm

Advertisements

saling membayang

terkadang kau ingin menjadi orang itu. dan terkadang juga orang itu ingin menjadi seperti kau. 

dan seiring berjalannya waktu, bisa jadi orang itu menjadi kau dan kau menjadi orang itu. hingga kemudian kau tersadar, bahwa kamu istimewa sebagaimana kau apa adanya. 

bukankah manusia selalu ingin menjadi apa yang mereka belum miliki? 

*26.08.16, 06.15am

IMG_1427

Tentang sebuah kehilangan,

Masihkah ia hilang, jika dalam ketiadaan kita masih berziarah dalam kenangan?

Masihkah kehilangan, jika dalam jarak yang menjadi jeda justru menjadikan semakin memiliki?

Masihkah kehilangan, jika dalam rindu yang menggebu membuat segalanya semakin indah?

Masihkah kehilangan, jika dalam wujudnya yang tiada, justru kita mampu menemukan bentuk hidup yang lain?

Masihkah ia kehilangan? Jika hilang hanyalah ketiadaan fisik, namun hati semakin terikat?
Apakah keberadaan hanyalah fisik?
Apakah karena ia yang terlihat?

Dalam perjalanan menuju tempat pergi, 06 september 2015

07.04pm

Sering kita mendengar bahwa, “Tuhan akan memberikan yang terbaik untuk hamba-hamba-Nya.”

Tapi pertanyaannya, kapankah kita tahu bahwa itu yang terbaik?

IMG_20141226_134223

Saat sesuatu telah terjadi, itulah yang terbaik untuk kita.

Apapun, bagaimanapun, dimanapun, siapapun, dan kapanpun.

kebahagiaan itu sementara.
Jadi, ketika kamu tertawa keras hingga kamu menangis bahagia, ingatlah bahwa itu tidak kekal.
Tapi, nikmati saja.
Kesedihan itu sementara.
Jadi, ketika kamu menangis tersedu hingga enggan terhenti, ingatlah bahwa ini tidak kekal.
Maka, tertawalah untuk kebahagiaan yang akan datang.
30.05.13   07.00pm

IMG_2727

Maka, nikmati saja. Bagaimana kamu bisa mengatakan itu menyenangkan dan menyedihkan? Bukankah konsepsi kitalah yang menggiringnya untuk menyimpulkan demikian?

Kenapa harus sedih? Kenapa harus bahagia? Apa itu sedih? Apa itu bahagia?

Bagaimana kalau menahan dahaga dan lapar itu bahagia? Bagaimana kalau bau sampah yang menyengat itu menyenangkan? Bagaimana kalau suara teriakan yang menggelegar hingga memekakkan telingan itu membuat tertawa? Bagaimana kalau jalan yang penuh dengan kendaraan yang tidak bergerak itu bisa membuat seulas senyum? Bagaimana kalau dunia ini kita jungkir balikkan? Bagaimana?

Apakah itu bahagia? Apakah itu sedih? Kenapa bahagia? Kenapa sedih?

Saya bukanlah seorang perencana. Tapi saya percaya bahwa ada Dzat yang lebih besar dari saya yang selalu saja membuatkan rencana yang luar biasa untuk titik seperti saya ini.

Kedudukan-Nya yang tinggi, yang mampu melihat semestanya, apalah saya ini. Seberapa besar saya tampak dari atas sana? Dan masihkah saya berjalan di atas muka bumi ini dengan sombong? Hei, kita ini hanya titik dari pandangan-Nya. Hei, kita ini siapa? Hei, apalah yang kita tahu ini?

Saya dengan sangat sengaja membuat mula kata pada jejaring ini pada tiga.empat. Yang tidak saya sengaja adalah pertemuan saya dengan tiga.empat. Tiga.empat yang berada pada posisi yang sama pada dua buah alamat nomor gelombang suara saya. Tiga.empat yang menjadi penanda penomoran kehadiran saya di tempat saya menuntut ilmu terakhir.

Mulanya, saya tidak merencanakan apa pun untuk tiga.empat di angka kelima ini. Tapi, melihat kata terakhir yang saya wujudkan di jejaring ini pada angka tiga.tiga, kenapa tidak saya buat kata ke-tiga.empat di tiga.empat? Apakah saya merencanakan akan membuat tiap kata hadir? Ya, saya memang telah menuliskannya. Tapi saya tidak pernah memberikan tenggat waktu bahwa kata-kata harus muncul pada hitungan waktu yang ke berapa. Saya hanya mengikuti kondisi diri saya apakah saya ingin membagi kata atau tidak. Dan, seterusnya, biarlah dia yang memberikan takdirnya pada saya.

Apalagi yang mampu saya bisa selain hanya percaya? Terkadang kita membuat rangkum peristiwa berdasar apa saja yang kita dengar, lihat, dan pikirkan. Apakah itu segalanya selalu benar dan selalu sesuai dengan realitasnya? Apa yang kita tahu? Tapi kenapa pula kita meyakininya? Karena kita percaya.

Maka, apa yang menjadi berharga selain masa yang atas namanya pun Dia telah bersumpah? percaya, kepercayaan, yakin, keyakinan..

Bukan karena tiga.empat ini saya percaya, tapi dengan tiga.empat ini bertambahlah keyakinan saya. Bahwa ya, saya hanyalah sebuah titik yang tidak menahu atas apa pun.

Semua orang seolah berlomba menunjukkan eksistensinya. Menunjukkan siapa dirinya, apa yang telah diperbuatnya, apa yang ingin diperolehnya, cita-citanya yang besar, masa lalu yang gilang gemilang.

Setelah itu, tapi apa?

Apakah agar kita dilihat digdaya? Apakah untuk menyebarkan semangat yang terus berkobar bagi sesama? Ataukah untuk sekedar ada?

Saya mungkin akan selalu berhadapan dengan orang-orang yang berdiri pada pemikiran yang berbeda. Namun, biarkanlah…

can you see?

dapatkah kamu melihatnya?

Apakah ada itu harus selalu terlihat? Apakah ada itu harus selalu dilihat?

Apakah tiada itu selalu benar-benar tidak ada?

Apakah ada itu biasa tiada? meniadakan?

Ya, pahlawan tak bernama. Itulah makna perjuangan yang tulus.

.Hatta: aku datang karena sejarah, 174.

Membaca ceritanya, adalah belajar menjadi manusia. Ya, manusia. Manusia yang memanusiawi. Manusia yang sadar akan manusia lain, manusia yang menjalani hidup dengan suka dan duka, manusia yang mau menerima hidupnya, manusia yang hidup dengan  segala dinamikanya.

Maka, apakah yang menjadi penting dari hidup ini?

pilihlah…

chess is life

Bayangkan kalau ini sebuah permainan catur. Kau berada di sebuah titik dan kau tidak dapat melihat jalan keluar. Tetapi pasti ada sebuah jalan keluar, atau kau akan kalah.(zugzwang)
.filosofi catur, 872.

Mungkin, begitulah kita seharusnya menjalani hidup. Tuhan pasti akan menggerakkan bidak-bidak catur-Nya dengan sempurna. Kita hanya perlu yakin. dan..keyakinanlah yang pada akhirnya membuat manusia tetap hidup.

terlalu lama bersama, dan akhirnya dia memisahkan diri. terhitung februari 2008 hingga 25 september 2013. 5 tahun lebih, dan akhirnya harus berakhir. menemukan di jakarta, kebersamaan yang lama di surakarta, dan berpisah di blora.

bukan masalah dia harus berganti rupa menjadi yang lebih baik. tetapi, karena ia adalah bagian dari memori saya. tak terhitung berapa banyak hari-hari saya yang tersimpan di dalamnya. rangkai kata, rangkai peristiwa, rangkai hidup. bukan perkara seberapa banyak kehilangan materi itu. tapi, kehilangan memori itu.

buat orang lain, mungkin itu hanya sekedar gambar tak berarti, racauan kata yang membuat jengah untuk membaca. tapi, bagi saya itulah hidup saya. memori saya. hidup saya.

maka, ketika perpisahan itu terjadi, bukan lagi tangis. tapi candaan kebingungan dan linglung mencari sebagian diri yang menghilang. dan akhirnya, mendalami kebersamaan itu. mendalami sebuah hari, menyelami banyak hari untuk sekedar mencari tahu mengapa suatu itu terjadi. revisi hidup.