Skip navigation

Category Archives: melanglang buana

tentang banyak perjalanan di atas bumi yang sempat saya singgahi dan berjabat tangan untuk sekedar membentuknya dalam gambar bernama sebuah kenangan..

sunrise gunung prau

sunrise gunung prau

Perjalanan kali ini adalah perjalanan subtitusi. Mencoret Merbabu dan menuliskan Prau. Bersama dengan teman Pawitikra saya, kami berdua merancang segala persiapan untuk ke sana. Bermodal googling dari Jogja-Wonosobo-Pathak Banteng-Prau. Semuanya kami mulai dari ketidaktahuan yang sempurna. Bermodal teori, menuju ke pengalaman yang sesungguhnya. Ini adalah perjalanan pertama saya dengannya menuju tanah tinggi itu. Dia yang pernah mencapai tanah impian saya (sebut saja dia gunung tertinggi di Jawa), dan saya yang lebih sering merepetisi perjalanan.

Namun kali ini lain ceritanya, Bersama dengan rekan baru pada tanah yang baru. Bermula dari hanya perjalanan berdua, akhirnya berangkatlah kami tiga wanita menuju Wonosobo. Dari pagi menembus kabut di selatan-barat Bantul menuju utara-timur Bantul. Diberi bekal pengganjal gastro di pagi hari yang sangat jarang saya lakukan, lantas menujulah kami ke arah utara-barat Jogja. Menembus kota, melewati batas antarkabupaten.

Bertambah satu anggota, menumpang kendaraan umum, menuju tanah tujuan. Perjalanan yang lebih saya warnai dengan pejaman mata, dan akhirnya sampai juga kami di pos pendakian. Mengisi bekal dan membeli bekal untuk perjalanan ke atas.

Ketiadaan pengetahuan yang cukup, kekurangan navigasi akan medan terjang yang akan kami tapaki, membuat perjalanan ini layaknya dora yang selalu berrtanya, namun kami tidak menahu akan jawabnya. Tapakan pertama, menuju jalan mula pun kami bahkan tak tahu. Tajamkan indera, gerakkan radar. Ya, setapak itu adalah yang baru saja kami lihat orang berduyun-duyun kelelahan sembari ditemani beban di punggung mereka. Usailah pertanyaan kami.

Segeralah kami berjalan menuju jalan yang benar itu, ditandai dengan anak panah merah. Namun, belum juga sampai 5 menit kami berjalan, kami telah disapa penduduk lokal yang mengatakan bahwa jalan kami keliru.hahaha. Diantarlah kami menuju jalan kebenaran, menuju rumah terakhir yang lantas mendaki untuk menuju pos 1.

Pendakian pun dimulai, dan gugurlah satu anggota tim kami. Berdua, perlahan, ditemani rintik hujan, proses langkah demi langkah itu pun dimulai. Tiada bertemu dengan rekan sejawat yang naik atau pun turun, mutlaklah Prau seolah menjadi hanya milik kami berdua saja,

Pelan, pelan, pelan.

Rintik, rintik, rintik.

Kami pun melewati pos 1,2, dan 3. Masih juga bersama rinai itu, yang dengannya Ia tumbuhkan tanaman-tanaman untuk kita hidup. Tampaklah 2 rumah nomaden telah berdiri. Sapaan hangat selalu menyambut orang asing di tempat asing yang sudah bagai keluarga saja. Mengetahui bahwa hanya dua makhluk kecil yang akan mendirikan rumahnya, bala bantuan pun datang dari mereka yang menyapa. Dengan segala kebajikan dan bantuannya, kami ucapkan terima kasih. Apalah daya kami tanpa bantuanmu saudara. Bahkan memori ini pun mengalami pendangkalan ingatan akan bagaimana harusnya ruamh itu didirikan. Hah, sudah berapa lama bahkan saya tak pernah menyentuh rangkaian kubah itu.

1.1Membereskan segala hal untuk dimasukkan ke dalam rumah. Ah ya, rumah kami telah jadi. Rumah besar yang hanya akan diisi oleh dua orang yang sejatinya mampu dipenuhi tiga kali lipat dari jumlah kami. Akan menjadi malam yang penuh gemeletuk gigi sepertinya.

Mencoba menangkap siluet senja-Mu di barat. Namun, apalah daya kuasa ini dibandingkan kuasa-Mu yang mengetahui dan memiliki segala-gala apa yang ada di langit dan di bumi ini. Menikmati kabut tipis di tanah tertinggimu. Cukuplah, dan turunlah kami menambah asupan gizi.

Sembari menikmati minuman hangat, datanglah serombongan pendaki dari Jakarta. Seperti terdampar di sebuah gunung yang masih di Jawa namun yang terdengar adalah bahasa nasional.

Malam yang terlalu semilir. Namun, inilah yang saya sukai dari malam-malam saya di gunung. Pekat, hening, dan bintang gemintang yang seolah sengaja ditumpahkan-Nya untuk memenuhi angkasa. Di bawah pun dia ada, namun cahaya yang terlalu banyak itu telah menutupinya. Kehadirannya adalah alfa di sana, tapi di gunung, semua seolah hadir untuk menunjukkan diri dan berebut kursi di sana. What a night!

Di bawah langit-Mu yang tiada batas itu dan di atas bumi-Mu yang Kau tinggikan itu, mengalirlah banyak cerita di antara masa-masa yang kami habiskan di kota Tengah dan di kota Barat. Mengalirlah cerita di kala kami masih bocah mencari ilmu di masa awal peralihan. Mengalirlah cerita tentang hari berikutnya yang akan teman saya lalui jauh di daratan negeri bentukan Romulus. Ah, betapa waktu terus berlalu. Kekahawatiran kami di waktu lampau, telah terlewati, masa kini yang telah terjadi, pada akhirnya akan menjadi kenangan juga. Bukankah kita sebenarnya tak pernah memperjuangkan masa depan? Bukankah kita pada akhirnya akan berjuang untuk kenangan yang akan kita ingat nantinya?

Dan, menutuplah mata. Pagi hadir sebagaimana ia akan hadir tanpa kita khawatirkan. Bukankah akan selalu begitu? Bukankah adanya kita hari ini adalah bukti bahwa kita pernah melampaui banyak hal meyenangan dan menyedihkan di masa dulu?

ketika jingga di prau menyapa

ketika jingga di prau menyapa

Membuka mata dan seolah kami seperti dipindahakan dari tempat terakhir kami. Tanah yang sebelumnya senyap, seolah berubah menjadi kampung penuh rumah nomaden yang dihadirkan dalam semalam. Ah, selalu saja ada efek film itu. Ah, selalu saja ada orang-orang yang hadir ingin menaklukkanmu.

Apakah orang-orang ingin menjadi seperti Sir Edmund Hillary? Yang tatkala untuk pertama kalinya menginjakkan kakinya di tanah tertinggi di bumi berteriak “Kita telah berhasil menumbangkan si bajingan itu!”, sembari mengambil foto dan mengencingi puncak. Maukah kita menjadi seperti itu? Ataukah kita ingin menjadi seperti Sherpa Tenzing Norgay, yang berkata “Aku bersyukur, ya Qomolangma (sebutan masyarakat Tibet untuk Everest yang berarti Dewi Ibunda Suci Alam Semesta)”. Mau menjadi yang manakah kita?

Ah, sudahlah. Toh tiap orang memiliki tujuannya masing-masing. Bahkan saya pun tidak tahu tujuan saya hadir si situ. Yang saya tahu, saya menyukai perjalanan menuju tanah tinggi. Setelahnya, biarlah perjalanan itu yang memberikan takdirnya untuk saya.

Ratusan mata menanti hadirnya surya yang pelan-pelan menyapa. Hampir semua mengacungkan alat perekamnya. Saya pun juga. Namun, melihat semuanya menanti dan membuat kehadirannya sebagai latar pusat diri kita, saya pun hanya memandang kegaduhan itu sesaat. Saya bahkan hanya sebatas mampu ‘mencoba’ untuk ada di sana. Saya lebih terhanyut dalam euforia komunal itu. Mengabadikan dalam perekam namun tidak benar-benar menikmati apa yang sedang terjadi. Betapa naifnya saya.hahaha.

Dan saat pertunjukan usai, yakni Sindoro, Sumbing, Merbabu, Merapi, dan Lawu dengan cahaya yang setiap detiknya berubah dari gelap menuju semburat oranye lantas berubah menjadi terang, usailah kumpulan orang-orang itu. Menyebarlah tiap-tiapnya di antara bukit teletabis yang menghampar.

Kami pun bergegas mencari sesuatu yang tertunda kemarin. Menuntaskannya sebelum kembali turun. Danau warna Dieng dan Gunung Slamet di sebelah barat adalah pemandangan di sisi lain dari kelima puncak tadi. Sungguh sebuah pagi yang menakjubkan. Selalu akan menjadi sebuah hari yang akan selalu saya rindukan.

Bergegaslah kami. Mengepak segalanya kembali dalam ransel kami. Berbagi beban untuk kami bawa kembali. Perjalanan turun ini ramai sekali. Dipenuhi dengan rombongan yang bahkan datang setelah kami.

Sampailah kami. Dan segeralah kami bertemu dengan salah satu anggota yang menginap di bawah. Segaralah kami menapaki kendaraan beroda empat itu, yang akan membawa kami kembali. Kelelahan dan kebahagiaan yang telah dicampuradukkan itu lantas membawa kami berdua tertidur pulas tanpa menghiraukan apa yang terjadi. Hingga teman kami yang terlihat sangat manusiawi sedangkan kami yang terlihat entah seperti apa, menceritakan apa yang didengarnya dari kepolosan anak yang duduk di depan kami.

“Mak, mak, mbak-mbake kuwi ki wong edan yo?”

(Ibuk, ibuk, mbak-mbaknya itu orang gila ya?)

“Dudu le, mbak-mbake kuwi lagi wae mbar munggah gunung.”

(Tidak nak, mbak-mbaknya itu baru saja naik gunung)

hahaha. Sepertinya tampang kami memang sudah tidak manusiawi lagi. Hingga kepolosan seorang anak kecil itu pun tidak dapat membohongi realitas yang ada.hahaha. Andai saja kami mendengarnya langsung dek, kami pasti akan tertawa terpingkal-pingkal. Sayangnya kami tidak membawa kaca sehingga tidak bisa melihat seperti apa wujud kami.hahaha

Dan usailah perjalan ini saat kami menginjakkan kaki kami kembali. Usailah perjalanan itu. Kembali lagi ke peradaban. Kembali lagi ke kehidupan nyata 😀

4

Lantas, sebagaimana petrjalanan saya yang lain, saya selalu menandainya dengan angka. Inilah rekam jejaknya.

GUNUNG PRAU ~30-31 mei 2014

Berangkat

05.20 berangkat dari ujung selatan Bantul menuju ujung timur utara Jalanan masih sepi.

06.15 berangkat ke terminal jombor via ring road-dongkelan-pingit-jalan magelang

07.00 sampai di jombor. Parkir menginap.

07.20 berangkat naik bus jogja-magelang-semarang. Seat 2-3.@10ribu

08.10 sampai di tidar, naik bus jurusan wonosobo. Langsung berangkat. @20ribu.

*Lebih baik bayar pakai uang pas. Bisa dapat 15ribu atau 18ribu.

10.15 sampai di terminal mendolo wonosobo. Ke kamar mandi @2ribu, masyarakat yang ramah. Diberitahu turun kauman. sesuai hasil gugling.

10.33 kol kuning, @2ribu. Turun juritan.

10.50 juritan. Ganti mini bus ke arah patak banteng.

11.45 sampai di patak banteng Lapor ke basecamp. Mencatatkan nama perwakilan anggota. Untunglah saat itu kami naik bertiga, meskipun pada akhirnya hanya berdua. tapi setidaknya kami lolos dari peraturan bahwa pendakian yang dilakukan hanya oleh 2 orang harus ditemani guide lokal.

Pulang

08.10 turun

10.15 basecamp

11.05 naik bus arah juritan

12.00 juritan ganti kol kuning ke arah terminal

12.05 kol tidak masuk terminal, langsung naik bus ke arah magelang. Padahal niat bersih-bersih diri di terminal. Alhasil,hahahaha

12.05 ke arah magelang dari wonosobo. View sumbing. Ah, pengen meluk sumbing

14.10 terminal tidar. Makan soto seger @8ribu

14.35 naik bus ke arah jogja. Tapi ternyata si bus ini tidak kunjung jalan. Kita menunggu hampir 1 jam.

*tips: kalau mau naik bus dari terminal, mending nunggu di luar. Kalau si bus ini kira-kira udah mau jalan, baru deh masuk. Atau, mending nunggu di pintu luar. Busnya bakal lebih cepat akan jalan. Tempat duduk biasanya juga masih ada.

15.35 akhirnya berangkat. Setelah gerutuan yang lama dan keinginan untuk segera sampai rumah pun terpenuhi.

16.30 sampai di jombor. Segera turun dan sholat dulu di musholla-nya.

16.45 mengambil motor dari penitipan. 2ribu/hari. Tak peduli inap atau tidak.

16.50 menuju ke imogiri timur.

17.35 sampai rumah raras. Segera meluncur ke rumah

18.10 akhirnya tiba juga. Walau capai, tapi kalau senang. Maka yang lebih akan terasa adalah senang itu.hahahaha.

*semua photo adalah bukan milik saya pribadi. Ini adalah hasil jepretan rekan seperjalanan saya.

Advertisements

Bermula dari perbincangan iseng (menurut saya) dan saya anggap sebagai suatu candaan, yang berarti tidak akan terjadi dengan sungguh-sungguh, maka itu berarti angin lalu. (Terlalu sering merancang perjalanan menuju timur dan akhirnya gagal telah membuat saya skeptis dengan berbagai rencana perjalanan ke sana).

Namun, beberapa hari sebelum tenggat waktu diberikan,  pertanyaan itu datang kepada saya.

“Jadi naik?”

“Hah? Ke Lawu? Lha…waktunya mepet.”

Ya, benar. Saya itu bukan easy climber yang tanpa persiapan jauh-jauh hari akan mau naik ke gunung. Alhasil, saya minta pengunduran waktu. Minggu depan jawab saya.

Tim yang mulanya direncanakan berempat, akhirnya satu per satu mengundurkan diri dan ya…antara ingin naik dan bagaimana nanti di sana? Tapi, demi perjalanan mendaki itu, apa pun akan saya lakukan. Bukankah memang selalu begitu? hahaha.

Dan dengan penggantian personel yang dirombak total, jadwal pendakian yang digeser dari malam menjadi pagi, akhirnya berangkatlah 6 orang ke Lawu. Jika biasanya pendakian saya tidak akan jauh bersama tim bergerak memahami alam, maka kali ini keberangkatan saya bersama bapak pengajar saya, dua orang adik beliau, dan 2 orang teman adik beliau. Perfectly stranger.

Tapi, itulah nikmatnya menjadi orang asing. Kita akan mulai belajar dengan siapa kita berjalan, bagaimana harus menata diri, beradaptasi lagi, menjadi orang asing lagi.

Karena saya sangat suka menuliskan detak-detak jarum selama perjalanan, inilah apa yang mampu saya rekam saat berada di sana.

29 Maret 2014

08.00 dari daerah Jaten menuju Cemoro Kandang
09.30 Cemoro Kandang. Menitipkan motor dan persiapan.
09.45 Mencari makan, beli kebutuhan yang masih kurang, jalan ke Cemoro Sewu. Harusnya ada retribusi, tapi lanjut saja karena semua hal bisa dinegosiasikan 😛
10.00 Jalan dari Sewu dengan terengah-engah. Setelah pendakian terakhir di tahun 2012, fisik ini rasa-rasanya sudah terlalu asyik dengan dunia nyata yang tiada menguras tenaga.
11.20 sampai di pos 1 (1 jam 20 menit dari pos pencatatan). Ada warungnya. Menyediakan es teh, gorengan anget, aneka minuman, tempat berteduh full tikar. Oh..betapa nikmatnya. Tanpa harus bersusah payah, makanan dan tempat berteduh telah siap sedia.
11.35 jalan dari pos 1 menuju pos 2. Jalan mulai berbatu dan sedikit celah bertanah. Kanan kiri batu-batuan. Sudah mulai nyaman dengan keadaan perjalanannya.
13.10 sampai di pos 2 (1 jam 35 menit). Penuh manusia posnya. Ramai sekali. Duduk beristirahat dahulu sembari berusaha mengumpulkan kembali ceceran tenaga yang telah menguap.
13.30 berangkat dari pos 2 menuju pos 3.
14.30 sampai di pos 3 (1 jam). Makan siang yang sudah dibeli dari bawah tadi. Seloow dulu. Kita beristirahat dulu lah..
16.15 sampai pos 4.  ( 1 jam 15 menit). Medan bebatuan terjal. Pos 4 tidak ada rumahan. Hanya ada shelter untuk 1 tenda. Tapi ada spot untuk melihat pemandangan.
16.55 sampai di shelter besar dan bisa untuk ngecamp. Tapi tidak ada sumber air.
17.10 mulai jalan ke pos 5. Jalanan bagus untuk foto. Setapak panjang penuh bebatuan.
17.30 sampai di sendang drajat (1 jam 35 menit). Warung ada di sini. Pelanggan yang tiada henti datang silih berganti. Order minuman atau makan bisa di sini. Tempat luas untuk tidur. Tidur sini.

Menikmati sendang drajat di pagi hari dengan tempelan-tempelan stiker calegnya, matahari terbit yang telihat malu-malu tertutupi kabut, dingin pagi yang menusuk, lalu lalang para pendaki yang memenuhi warung kecil itu.

perjalanan

30 Maret 2014
06.10 berangkat ke warung mbok yem.
06.20 sampai sudah di warung tertinggi di Jawa atau mungkin di Indonesia.
06.45 menuju puncak ditemani kabut yang belum juga beranjak meninggalkan lawu
07.20 sampai puncak. Ramai sekali di atas. Penuh dengan orang-orang yang ingin mengabadikan momen di tempat yang tidak semua orang bisa mencapainya.

Pertanyaan saya, apakah makna tercapainya puncak saat pendakian itu? Memamerkan kedigdayaan karena berhasil di gunung? Menunjukkan supremasi di tanah tinggi? Atau terdiam karena tak mampu berkata jika pada akhirnya kamu mampu dan kamu bisa? Ataukah sujud tersungkur melihat betapa kecil, dan tak berdayanya kita di hadapan semesta-Nya? Ah, toh tiap orang memiliki tujuannya masing-masing.

07.30 bergerak turun ke bawah. Berhubung fisik saya masih oke, lari-larian dah..
07.40 sampai di warung mbok yem lagi. Beristirahat dahulu.
08.08 bergerak menuju house of bottle. Berfoto sebentar, lalu lanjut menuju pos 5. Pos 5 hanya sebentuk per3an jalan untuk menandakan arah mana yang bisa kamu ambil. Ini adalah pertigaan menuju berjalan di atas awan kata teman saya saat 8 tahun lalu saya menjejak tanah ini.
09.00 sampai di pos 4 (1 jam). Istirahat makan. Dan memori 8 tahun yang lalu saat pendakian bersama WHO pun menyeruak. Seolah ada pertunjukan layar tancap di dalam memori saya. Saya duduk dan ternganga bahwa waktu telah berlalu dengan cepatnya.
09.20 bergerak menuju pos 3.
10.00 sampai di pos 3 (40 menit). Perjalanan seringnya istirahat bukan di pos.
12.00 sampai di pos 2 (2 jam). Minum dan istirahat sebentar. Setelah melewati jalur turunan yang licin dan memaksa kaki untuk menahan beban dengan sangat.
13.00 pos 1 (1 jam). Ngesenek dulu, mengais-ais tenaga dulu. Dan, kaki ini pun mulai menunjukkan ketidakharmonisan dengan otak yang ingin segera sampai di bawah. Kesalahan fatal akibat terlalu berfoya-foya dengan tenaga yang tidak dikelola degan baik dari atas. Alhasil petaka berjalan menyemutlah yang terjadi.
14.00 (1 jam) sampai di base camp cemoro kandang dengan terengah-engah dan akhirnya, usailah juga..

wajah lawu

Itu adalah kisah saya di awal tahun ini. Banyak pemahaman saya telah berganti. Saat pendakian dan menemukan banyak warung dengan kemudahan bagi pendaki, saya begitu tertariknya bisa menikmati segelas es teh dan warung di puncak gunung. Tetapi, mendengar dan membaca cerita perjalanan yang lain, kemudian keasyikan itu sepertinya hilanglah sudah.

Buat apa kalau bahkan di tempat yang jauh pun, di tempat tinggi itu, bahkan kamu masih bisa menikmati kenikmatan seperti di bawah? Itu bukan lagi gunung sunyi yang di sana kamu harus berjuang dan mencoba bertahan di tempat asing. Kamu bahkan tidak bisa menemukan keasliannya lagi jika semua diubah untuk kemudahan manusia. Lantas, saya merindu Lawu yang 8 tahun lalu itu. Yang dengan kesunyiannya menghadirkan sensasi berjuang dan bertahan hidup. Bukan kenyamanan, tapi ketidaknyaman. Buat apa kita berjalan jika kita mencari kenyamanan? Bukankah itu sudah kita peroleh di bawah? Bukankah kita mendaki untuk menemukan hal lain? untuk menikmati apa yang tidak bisa kita nikmati di bawah? Menikmati ketidaknyamanan dan keterasingan? Ah, entahlah… Mungkin saya hanya ingin dia ada dan hidup sebagaimana dia semestinya dalam pikiran saya.

*Suatu tempat yang sama, dengan waktu dan orang yang berbeda. dituliskan kembali di surakarta dan jakarta, oktober 2014*

Bermula dari pembicaraan anggota purna WHO (lagi), untuk membuat sebuah perjalanan yang belum pernah kita jelajahi. mengunjungi sebuah pulau di utara Jawa, yaitu Pulau Karimun. Akhirnya, berangkatlah kami ke sana.

21 oktober 2011

13.39 Tim awal dari jogja ada 5 orang. Berangkat dari terminal giwangan jogja dengan bus ekonomi. Keberangkatan paling  awal menuju semarang pukul 03.00 dan paling akhir 17.00. ongkos 20rb.

19.40 terminal terboyo. Perjalanan selama 6 jam. Perjalanan normal harusnya hanya memakan waktu 3-5 jam, tapi karena macet dan hujan yang lebat akhirnya menjadi lebih lama. Makan di angkringan, @4ribu. Ketemu 2 orang dari Solo.

 

20.30 sampai di unissula. Setelah berjalan 15menit dari terboyo. Malam di semarang kami habiskan di sini.

 

22 oktober 2011

03.30 jalan dari unissula menuju terboyo. Dan langsung menuju bus jurusan semarang-jepara. Menunggu sampai bus terisi penuh dahulu.

 

04.10 berangkat menuju jepara. Ongkos 12ribu. (mending bayar pakai uang pas, karena jika tidak tiap orang bisa kena 15ribu).

06.10 Setelah perjalanan 2 jam, sampai di per3an jalan mt.haryono (jalan terdekat menuju pelabuhan kartini sebelum sampai terminal).

06.30 naek becak sampai di pelabuhan. 10ribu/becak isi 2 orang, ini ongkosnya sebenarnya masih bisa lebih murah, tapi berhubung masih pagi, ya sudahlah.. perjalanan tak sampai 10 menit sudah sampai di pelabuhan. Tim akhirnya berjumlah 8, dengan tambahan 1 personil dari Jakarta. ngantri tiket, makan dengan membabi buta karna ada panggilan untuk segera ke kapal. Yang ternyata masih menunggu 15menit di atasnya. (terjadi tragedi soto cepat :D)

Trik : Tapi lebih aman memang menunggu di kapal, karena jadwal keberangkatan kapal tidak setiap hari. 2 hari sekali. Jadi kalau tidak dapat yang hari itu, harus menunggu 2 hari lagi atau menyewa kapal kecil seharga 3 juta yang bisa dimuati sekitar 60 orang (tapi lupa pastinya berapa).

Selain itu, kapal sering berangkat lebih awal. Dijadwal memang tertulis 08.00 tapi kenyataan jika sudah penuh langsung melaju.

07.10 Goes to karimun jawa. (Ongkos 28.500+2000 (asuransi), jadi 30.500). Berhubung tempat duduk yang ada sudah habis, maka mau tidak mau harus ke kapal bagian atas. Yang ternyata sangat baik untuk menggosongkan kulit :D.

Trik: mending bawa payung untuk jaga-jaga kalau semisal harus di atas. Atau bisa juga mengademkan diri di bagian yang berbayang-bayang, tapi ini harus nomaden karena menyesuaikan dengan posisi matahari.

Bawa buku atau batere hp full untuk menghabiskan waktu selama perjalanan yang 6 jam, bawa Koran juga untuk alas tidur. Tapi kalau bisa dapat tempat duduk, ada tipi yang setia menemani. Satu chanel aja dan tak bisa diganti, tapi daripada tidak sama sekali. Bawa juga bekal untuk makan siang (bisa beli pas di pelabuhan kartini). Sehingga bisa menghemat biaya daripada beli di kapal.

13.50 sampai di dermaga, setelah perjalanan 6 jam 40 menit. Pemilik wisma yang akan menjadi home stay kami sudah menunggu dan segera mencarikan kami mobil untuk menuju tempat peristirahatan. 25ribu/mobil. Istirahat.

Trik : jika ada kelupaan untuk membawa alat mandi atau pun makanan, di karimun sudah berjejer warung kelontong yang siap mem-back up.

15.30 cari makan di alun-alun karimun jawa, Jalan 200meter. Ada 1 warung yang murah di sini. Bisa ngambil sendiri plus ditambah pemandangan suasana sore alun-alun karimun yang dipenuhi anak-anak yang bermain bola. @7ribu sudah termasuk minum. Setelah makan, berjalan ke dermaga nelayan, 100 meter dari alun-alun). Menikmati sunset dan foto-foto..

17.45 kembali ke homestay untuk ibadah dan istirahat.

19.50 jalan ke alun-alun lagi. Menikmati malam di karimun. Ada banyak pilihan makanan di sini. Tela-tela, siomay khas karimun, bakso ikan, ikan bakar, angkringan.

21.35 sampai di homestay. Istirahat panjang.

 

 

23 oktober 2011

05.05 Bangun. Dan satu hal, Sunrise cepat berganti. Bersiap untuk menkmati hari di karimun.

08.00 berangkat ke dermaga

08.30 berangkat dari dermaga menuju pantai pasir di tengah lautan (dekat pulau cemara besar). Indah! Latihan snorkeling dengan ke dalaman kurang dari 30cm,foto-foto

Trik: jika tidak bisa berenang, jangan kuatir. Akan ada life jacket (pelampung) yang akan membuat kita tetap mengapung. Dan jangan lupa, selalu gerakkan kaki dan tangan untuk bisa mengendalikan diri di air. Dan juga, percayalah pada alat dan jangan panik.

09.15 berangkat ke tempat snorkling. Dekat pulau menjangan kecil. Foto di bawah air dengan bantuan tour guide yang merupakan induk semang kami di homestay. Semua alat, kapal, kamera, dan semua kebutuhan kami selama berwisata ini disediakan oleh Pak Anto.

11.00 berangkat ke pulau cemara kecil. Ditemani hujan dan angin yang wow, luar biasa sekali.

11.30 sampai di pulau. Benar-benar seperti pulau sendiri. Hanya ada 2 wisatawan lain di situ, sebuah gubug yang ditinggali oleh seorang bapak. Bakar ikan, keliling pulau dibutuhkan waktu 20menit, foto-foto, mendapat kerang putih dengan bentuk lingkaran bergambar bintang. Makan siang yang nikmat dengan cuaca yang berganti cerah dan angin laut serta pemandangan yang luar biasa.menu makan siang: nasi, ikan kakak tua bakar, sambal yang super dahsyat mantapnya, dan degan segar.

Trik: bagi yang beser, jangan kuatir, di pulau ini ada kamar mandi kok. Sebuah gubug tanpa atap. Hehehe..

14.00 berangkat ke lokasi snorkling gosong karang. Foto-foto, minum air laut, view under water.

15.30 berangkat ke tanjung gelam untuk menghabiskan sunset yang indah.

15.45 sampailah kita. Di sini, tidak ada turis lain selain kita. Masih tetap merasa seperti pulau sendiri. Foto-foto. Banyak karang di tepi pantai, pedagang yang berjajar berjualan aneka minuman. Tapi kita buat sendiri minuman kita, coffemix+teh anget (membawa kompor sendiri). Menikmati sunset.

Trik : kamar mandinya gubug dengan atap dan kloset jongkok plus air. Hanya saja, pintunya tidak bisa dikunci. Jadi, bawalah teman untuk sekedar berjaga di luar.

17.00 Perjalan menuju dermaga.

17.35 sampai di pelabuhan bersamaan dengan adzan magrib. Dilanjut ke homesaty untuk bebersih diri.

19.30 cari makan di alun-alun. Tempat favorit, bu ester. Sembari mencari tipi yang menayangkan mu vs city. Yang ternyata tidak ada yang bisa menangkap siaran langsungnya. Penonton kecewa. Alhasil, makan saja. Pulang kembali ke homestay. Tidur.

24 oktober 2011

05.10 bangun, siap-siap, cari makan di bu ester lagi.

08.00 ke pelabuhan.

08.30 berangkat ke tempat snorkling.

09.00 sampailah kita. Setelah diombang-ambingkan ombak yang begitu dahsyatnya. Snorkeling lagi. Foto-foto lagi. View underwater lagi, banyak minum air laut lagi.

11.00 berangkat ke pulau tengah.

11.15 sampailah kita. Dengan dermaga, penginapan dan pulau yang rindang dengan pepohonan cemara dan kelapa. Berputar mengelilingi pulau yang ternyata jauh, lebih besar dari pulau cemara kecil. Makan siang dengan menu sama hari kemarin (tanpa degan). Nasi, sambal 2 macam yang dahsyat pedasnya, ikan kakak tua+bawal bakar. Tidur siang yang nyaman. Pulau agak ramai karena penginap berdatangan.

Trik: kamar mandi dengan tembok batu bata dan atap, air yang cukup melimpah, dan kloset jongkok.

13.40 snorkling di pulau kecil yang jika tidak ingin untuk ner-snorkling bisa menikmati pulau kecil yang dihubungkan oleh sebuah dermaga. Benar-benar menikmati bawah lautnya. Kemaren-kemaren ke mana? Hahaha. Ayo belajar renang sesampainya di Jawa (kapan ya?). Menikmati coffemix+teh anget lagi.

15.30 berangkat ke pulau gosong. Selama perjalanan, disuguhi pemandangan camar yang beterbangan mencari mangsa. Dan nelayan yang tak mau kalah saing mencari ikan.

Trik: bagaimana nelayan tahu di situ banyak ikan? Jika di situ banyak camar, bisa dipastikan daerah itu kaya ikan.

15.55 sampai di gosong. Daratan pasir yang hanya 0,5meter meliuk-liuk di antara air laut yang hijau. What a beauty. Tak ada yang bisa dilakukan selain menikmati pemandangan dan berfoto-foto.

16.20 berangkat ke penangkaran hiu di pulau menjangan besar. Turun ke bawah berenang bersama hiu, foto bersama nemo dan bintang laut pink. turun ke kolam hiu, @5ribu.

17.25 kembali ke dermaga, dan perjalanan hanya 10 menit.

17.50 di homestay. Antri mandi dan berhitung mulai. Trip 2 hari+ongkos naek kapal sampai jepara 281ribu (rincian ada di kamera). Cari makan. Berhubung tempat makan favorit bu ester penuh,kita makan siomay khas karimun jawa. Dan menikmati malam terakhir di tepi dermaga nelayan.

20.30 homestay, ke tempat teman pak anto. Transfer foto, beli souvenir.

Trik: di karimun, ada yang menyewakan sebuah bilik berisi sebuah komputer yang tersambung internet, di mana kita bisa menyewa pula untuk pindah data.

Souvenirnya macam-macam, ada kaos seharga 40ribu, gantungan kunci @5ribu, hiasan lain yang tidak saya ketahui harganya karena tidak membeli.hehehe.

22.30 Tidur terakhir di pulau karimun ;(

25 oktober 2011

04.34 Bangun, antri mandi, nitip makan dan packing akhir.

06.15 berangkat ke pelabuhan. Tanpa antri tiket karena sudah dipesankan pak anto yang mana dikenakan biaya Untuk tiap titipan 30rb dibagi 8 orang.

06.25 Berfoto, berpamitan, dan akhirnya naik ke kapal, mendapat tempat di lantai 2.

Mendapat tempat duduk di depan tipi dengan angin yang sepoi-sepoi. Beruntung mendapat tambahan pemandangan pelangi sebelum kapal melaju menuju Jawa. Sedia makan siang untuk di kapal.

07.40 berangkat dari pelabuhan karimun menuju jawa.

13.45 jawa. Makan siang di rumah makan di pelabuhan.

14.35 berangkat ke terminal dengan becak @5rb.

14.50 sampai.

15.00 menuju semarang.

17.10 sampai di luar terminal terboyo. menunggu bis jogja-semarang di tepi jalan. Berharap-harap cemas karena bus terakhir tujuan jogja adalah pukul 17.00. beruntungnya kami, ada bus patas yang masih beroperasi. Daripada tidak sampai jogja, akhirnya kami pun naik. Nyaman nyo :D. ongkos membengkak 15ribu.

21.21 4 jam perjalanan, dan sampailah di Terminal giwangan jogja.

*menghadapi kenyataan lagi, hahaha 😀

 

sepulangnya di kehidupan nyata, banyak sekali pertanyaan seperti ini.

Z : habis berapa ongkos ke karimun kemarin?

Y : inilah perhitungannya (daripada saya bingung menjawab, inilah total seharga uang ketika perjalanan ke pulau utara kemarin)

  1. Jogja-semarang                                : 20.000 (ekonomi)
  2. Semrang-jogja                                  : 35.000 (patas AC)
  3. Semarang-Jepara (pp)                  : 24.000 (@12ribu)
  4. Jepara-karimun (pp)                     : 61.000 (@30.500)
  5. Pelabuhan-terminal (pp)             : 10.000 (@5ribu)
  6. Homestay 3 malam                        : 75.000 (@25ribu)
  7. Makan (11x), di luar tur laut      : 66.000 (@6ribu, ini untuk mempermudah saja)
  8. Makan tur laut (2x)                        : 30.000 (@15ribu)
  9. Sewa snorkel+life jacket (2 hari) : 50.000 (@25ribu)
  10. Penangkaran hiu                              : 5.000
  11. Ojek mobil ke homestay (pp)      : 50.000 (@25ribu, dibagi 8 orang)
  12. Sewa kapal (2 hari)                          : 700.000 (@350ribu, dibagi 8 orang)
  13. Kamera underwater (2hari)         : 300.000 (@150ribu, dibagi 8 orang)
  14. Guide dan operator (2 hari)         : 100.000 (@50ribu, dibagi 8 orang)

*total habis individu 376ribu + total habis kelompok 144ribu (bisa lebih murah lagi, karena maksimal kapal adalah 12orang dan snorkel bisa digunakan secara bergantian) = Rp 520.000, 00

 

ini tentang sebuah perjalanan pertama di tanah tinggi itu. dengan komposisi 4 orang purna WHO (Wibhakta Hiking Organization) yang belum pernah sekali pun menjejakkan kaki di sana. bermodalkan 2 carrier, 2 daypack, hasil tanya-tanya, dan hasil gogling sebagai penunjuk jalan di sana. berangkatlah kami.

Jumat,16 september 2011.
18.10 berangkat dari sma 7 yogyakarta (51404.8km).

19.26 istirahat di taman sebelum borobudur. Makan bekal yang kami bawa dari rumah dan ditambah tongseng kambing yang ternyata sangat tidak bersahabat dengan gigi manusia (alot). dan bermula dari sini, akan muncul kutukan daging alot 😀

20.40 beranjak pergi dan dilanjut menuju jalur salaman-kali abu-sapuran-kali kajan-kertek. tetapi ternyata, jalur yang kita tempuh tidak sesuai rencana. kita justru berkeliling dahulu memutari Gunung Sumbing. sehingga kita lewat jalur secang-parakan. what a trip!

sabtu, 17 september 2011
24.20 sampai di basecamp (51552.9 km, speedo sepeda motor). akhirnya, setelah menempuh perjalanan yang direncanakan hanya 3,5 jam dan berubah menjadi hampir 6 jam. akhirnya, SB pun dibuka dan tidurlah kami.

05.30 bangun pagi. Sholat shubuh di masjid tanpa kamar mandi. dan ternyata kamar mandi yang ada di base camp pun minim air dan harus meminta kepada pemilik rumah jika air yang ada telah terkuras habis.

07.00 registrasi. @3ribu, per motor 5ribu. mencatatkan diri di sebuah buku besar dan meninggalkan salah satu KTP dari calon pendaki. pagi itu, Sindoro ramai. beruntung kami yang sudah membawa bekal dari rumah. karena base camp tidak menyediakan sarapan. dan ib tetangga yang biasanya berjualan pun sedang libur. sehingga beberapa pendaki harus turun ke bawah untuk mencari sarapan dan menunda jadwal mendaki.

08.35 berangkat dari base camp tanpa sarapan nasi, dan berencana akan sarapan di pos 1 yang menurut panduan kami hanya berjarak kurang lebih 1 jam.

11.02 break 5kali @5-10menit sampai di pos 1 dengan jarak tempuh 3,5 jam. sarapan yang sangat terlambat. di sini, ada 2 percabangan jalan. kiri (menanjak) dan kanan (turun). keduanya bisa dilewati. hanya saja, jalur yang lebih sering ditempuh pendaki adalah yang menurun. kami pun mengikuti yang umum saja.

12.20 berangkat. Jalan turun dan landai. Ganti 2 punggungan. di sepanjang jalan dari pos 1 ini, kami disuguhi dengan pemandangan bunga fitri (kami menyebutnya seperti itu, entah apa nama aslinya). dan di tengah perjalanan, akan ada 2 percabangan. kanan dan kiri. keduanya bisa dilewati. tetapi, jika ingin menuju pos 2 dan dengan jalan yang sedikit lebih bersahabat, maka pilihlah yang kanan saja. sedangkan jalur ke kiri jalan akan lebih banyak menanjak dan langsung menuju pos 3 dengan pepohonan yang rindang.

12.50 sampai pos 2. 0,5jam dari pos 1. beristirahat 5 menit dan tancap gas menuju pos 3. sepanjang jalan kami disuguhi dengan batu-batu besar yang penuh dengan vandalisme. dan setelah pepohonan rindang habis, maka jalur tempuh berubah menjadi jalan berbatu dengan kemiringan yang bisa membuat ngos-ngosan (45-60 derajat).

14.45 pos 3. 2 jam perjalanan. itu pun sudah dengan banyak istirahat dan menikmati surga gunung (baca:batu besar). di pos 3 ini bisa digunakan untuk camp banyak tenda. tempatnya luas dan landai. hanya saja, pilih lokasi yang strategis agar bisa meminimalisir angin yang masuk ke tenda. kami memutuskan untuk ngedome. Diiringi hujan gerimis saat mendirikan dan berhenti ketika pendirian berakhir ;D. Makan mi, menghabiskan nasi, saat sore tiba kami menikmati senja dengan memandang gunung sumbing yang ada di seberang kami. dan saat malam tiba, tampaklah bintang yang amat luar biasa banyak. milkyway pun terlihat. wha………saya suka malam di sindoro 😀

minggu, 18 september 2011

01.43 berangkat dari pos 3. sebelumnya, makan dulu dan berdoa. dengan modal nekat dan tidak mengindahkan anjuran yang ada di basecamp, dome ditinggal. Naek dengan 2 daypack dan 2 kosongan. selama perjalanan, kami ditipu oleh 3 punggungan yang dari bawah seolah-olah itu puncak, tapi ternyata bukan. jadi jangan percaya sebelum sampai di padang edelweis ditambah hamparan ilalangnya. di sepanjang dari pos 3 sampai puncak, bisa ditemui banyak shelter. cuma ya, anginnya brrrrr.

04.45 sampai di padang edelweis. Menikmati sunrise yang luar biasa, foto-foto yang tidak akan kami lewatkan, shubuh, dan ngemil sebagai tambahan tenaga. kami meninggalkan 1 botol air kami di sini yang akan kami gunakan sebagi bekal untuk turun nanti.


06.00 menuju puncak

06.30 sampai puncak. jangan kaget! iya, ini puncak. dengan jalan setapak yang melingkari kawah mati di bawah. jika berkenan dan masih bertenaga ekstra, bisa mengelilingi puncaknya sambil mungkin melempar batu-batu kecil ke kawah. atau juga, bisa turun ke kawahnya membuat memorial dengan menata batu. selagi di puncak, Cerah. Sumbing-Merbabu-Merapi terlihat. photo session jelas tidak akan terlupa. ditambah niatan dari bawah, makan bakso di puncak Sindoro kesampaian juga.

08.05
berangkat dari puncak. Turun, dan kami baru sadar ternyata banyak hutan terbakar. ada sebagian edelweis yang masih mekar.

10.48 sampai pos 3. perjalanan 2jam 45 menit. perjalanan yang membuat kaki kakukaku karena turunan yang curam. belum lagi banyak kerikil di sepanjang jalan yang membuat terpeleset. berunutng hari tidak hujan.

12.45 berangkat dari pos 3 ambil jalur kanan (beda dari jalur berangkat,tidak melewati pos 2). Jalur rungkut dengan ilalang, pada bagian tertentu, jalur hanya bisa dilewati satu orang. di tengah perjalanan, akan ada percabangan lurus dan jalur kanan. jika ke kanan, maka akan sampai ke pos 1. dan jika lurus (jalur yang kami ambil), akan sanpai di percabangan antara pos 1 dan pos 2.

14.20 sampai pos 1. perjalanan 1,5jam. istirahat sebentar di pos 1. sambil mengobrol dengan pendaki dari kehutanan UGM yang sudah sering bertemu sejak di basecamp.

16.20 sampai di basecamp dengan perjalanan yang semakin menyiput karena kaki sudah mencapai titik klimaksnya. sampai di kawasan penduduk, usahakan pendaki wanita berjalan bersama pendaki pria. biar tidak dimintai foto bersama.

17.10 berangkat dari basecamp menuju pom bensin terdekat untuk berganti baju. Berhenti di pom bensin 05.25

18.00 berangkat pulang lewat kertek-kali kajan-sapuran-kali abu-salaman. Jalur yang sempat (hampir) dilewati saat berangkat. akhirnya kita melewati jalur yang sesuai rencana. berhenti makan di jalan magelang. kurang lebih 0,5jam. sambelnya mantep 😀

20.25 sampai di kadipaten (dekat SMA 7) dan speedo menunjukkan 51650.9km. perjalanan kami tempuh selama 3 jam. 3 jam lebih cepat dari saat keberangkatan.

*perjalanan pendakian dilakukan dengan tempo dan ritme yang lambat. banyak beristirahat dan santai ala WHO 😀