Skip navigation

Category Archives: lain turbulensi

pemikiran lain yang saya ambil. sama seperti apa yang telah telah digariskan sang empunya.

What if it’s just a big, cosmic joke?

Then…laugh!

.madre,85.

buku harian itu diketemukan Senin pagi dekat sebuah bak sampah. ia tegeletak di bawah deretan pohon petai cina di kompleks Istana Olah Raga Senayan. ia rupanya milik seorang gadis. mungkin a terjatuh ketika ratusan ribu penonton berbondong pualng dari nonton bola dan upacara penutupan SEA Games, Minggu menjelang malam.

belum banyak isinya. tulisannya di sana sini kabur. mengkin terkena embun. tapi umumnya huruf-hurufnya tegak dengan ballpaoint itu masih bisa terbaca, di antara hiasan bunga-bunga kecil di tepinya yang rapi.

si penulis, sepertinya tertera di sana, namanya H (tak usah disebut kepanjangannya). ia menyebutkan hari ualng tahunnya yang ke-17 bulan lalu. nampaknya ia termasuk cewek romantis, atau seorang seorang penggemar olah raga yang berapi-api, atau seorang yang lagi jatuh cinta dengan seorang atlet.

“bukuku”, begitu tulisannya bertanggal 28 September 1979.”hari ini aku bertengkar. D., sepupuku bilang: sebagian besar emas buat kita itu ngibul. gila! dia bilang kiat sengaja bikin pertandiangan yang nggak ada lawannnya, dan bahkan negara tetangga cuma kirim atlet kelas kambing… bukankah itu kurang ajar?”

“aku panas benar. dia pura-pura nggak tahu kejadian penting dalam sejarah: pernahkah kita memeroleh kemenangan sebanyak itu dalam pertandingan inetrnasional? todak. baru kali ini. D. rupanya nggak ikut bangga. ia meledek aku: “kau ini fanatik karena lagi naksir si M, atlet gondrong itu!”

“kenapa D. begitu sengit? kenapa dia, calon sarjana, tak mau mengerti?” pagi tadi aku temui mas tom, kubilangkan omongan si D. itu. dia cuma ketawa. “itu yang disebut sinis, niek”, katanya. “banyak orang yang tak lagi percaya bahwa hal-hal yang baik juga bisa terjadi pada bangsa kita,” katanya lagi.

“mas tom lalu bercerita lagi tentang sebuah majalah Amerika yang dibacanya (Fortune?) yang nyebut-nyebut Indonesia negara terkorup di Asia. ia lalu bercerita pencopet Indonesia di Tokyo yang dipasang potretnya di televisi Jepang. mas tom juga menyebut perkara sogok-sogokan, tekan-tekanan, yang membiki orang kehilangan banyak, tapi terutama kepercayaan bahwa hal yang baik bisa terjadi.”

“tapi hal yang baik kan juga bisa terjadi pada bangsa kita kan kan mas tom?” tanyaku.

“tentu, niek, tentu,” jawabnya, menatapku. tetapi kenapa aku ingin nangis.

baris-baris lainnya bertanggal 26 september.

“hari ini M tak berhasil dapat medali. ia murung sekali dan aku hanya bisa memegangi tangannya. teman-teman sengaja pura-pura nggak ngeliat kami, berjalan berduaan di tepi buit di seberang lapangan baseball.

“mengapa orang tak bisa menghargai mereka yang kalah? mengapa orang ngomongin hasil akhir doang? wartawan-wartawan sok pinter pada sok bikin analisa, pada ngritik ceplas-ceplos. emangnya apaan pekan olah raga bagi mereka? mereka cuma melihat satu titik, besaaar tapi bukan garis panjang.

“M berbulan-bulan mempersiapkan diri. dan tidak cuma dia. sejak jam setengah lima pagi para atlet yang mau bertanding di mana saja pada bangun, berlari, berlatih, cemas, kecapekan, kepanasan, dikejar-kejar, mengejar-ngejar, kesel, keki, berharap-harap … untuk perbaikan waktu yang cuma beberapa detik!”

“kau tahu berapa rekor dunia lari satu mil di tahun 1945?” tanya M satu kali. aku nggak tahu, aku nggak bisa ngejawab. dia menerangkan: “empat menit, satu koma enam detik, atas nama seorang Swedia.”

lalu tanyanya lagi, “kau tahu berapa rekor dunia di tahun 1975? dia menjawab sendiri “tiga menit, 49 koma 4 detik atas nama John Walker, orang Selandia.

“itu artinya 30 tahun, Niek, 30 tahun!” pergultan, dan keringat, dan ketegangan, yang 30 tahun itu hanya untuk 12 detik.

ahirnya buku harian itu berhenti di tanggal 30 september pagi.

“jika kesebelasan Indonesia kalah sore nanti dari Malaysia, aku tidak akan mengejeknya. bukan karena aku fanatik, tapi dari ribuan penonton itu biarlah ada seorang yang bisa kasih medali diam-diam.”

6 oktober 1979.catatan pinggir, goenawan mohamad.