Skip navigation

​Dan ketika kerisauan-kerisauan itu berhimpun dalam sebuah koloni, lantas kau tersuruk dan tersungkur. Hei, hei, jiwa yang lemah. Mampukah kau menghitung nikmat-Nya? Mampukah kau memikirkan anugerah-Nya? 

Bagaimana jika satu sarafmu terputus? Bagaimana jika satu sinaps saja tak menghantarkan impuls-impuls itu dengan baik? Bagaimana jika tiba-tiba datang sebuah warta kehilangan? Bagaimana jika sebuah bencana mengoyak dunia kecilmu? Bagaimana jika kenangan-kenangan lalumu menghantuimu sekarang? Bagaimana jika kau tak mampu tertawa atau menangis? Bagaimana jika kau mendapat sayatan kecil pada jarimu? 

Bagaimana jika? Bagaimana jika? Bagaimana jika? 

Pada kenyataannya, kau sedang tidur-tidur di atas buaian dipanmu, sedang menikmati buku bacaanmu dalam turbulensinya sembari menyesap coklat hangat yang kau buat sendiri beberapa menit yang lalu. Lantas, masihkah kau perlu risau? Jika segalanya telah ditetapkan-Nya, jika semuanya telah dituliskan-Nya dan kau tinggal melakoninya, lantas kenapa pula tak kau ulaskan bibirmu ke kanan dan ke kiri? 
03.10.16.  09.37pm

Advertisements

tuliskan jejakmu di sini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: