Skip navigation

Bermula dari perbincangan iseng (menurut saya) dan saya anggap sebagai suatu candaan, yang berarti tidak akan terjadi dengan sungguh-sungguh, maka itu berarti angin lalu. (Terlalu sering merancang perjalanan menuju timur dan akhirnya gagal telah membuat saya skeptis dengan berbagai rencana perjalanan ke sana).

Namun, beberapa hari sebelum tenggat waktu diberikan,  pertanyaan itu datang kepada saya.

“Jadi naik?”

“Hah? Ke Lawu? Lha…waktunya mepet.”

Ya, benar. Saya itu bukan easy climber yang tanpa persiapan jauh-jauh hari akan mau naik ke gunung. Alhasil, saya minta pengunduran waktu. Minggu depan jawab saya.

Tim yang mulanya direncanakan berempat, akhirnya satu per satu mengundurkan diri dan ya…antara ingin naik dan bagaimana nanti di sana? Tapi, demi perjalanan mendaki itu, apa pun akan saya lakukan. Bukankah memang selalu begitu? hahaha.

Dan dengan penggantian personel yang dirombak total, jadwal pendakian yang digeser dari malam menjadi pagi, akhirnya berangkatlah 6 orang ke Lawu. Jika biasanya pendakian saya tidak akan jauh bersama tim bergerak memahami alam, maka kali ini keberangkatan saya bersama bapak pengajar saya, dua orang adik beliau, dan 2 orang teman adik beliau. Perfectly stranger.

Tapi, itulah nikmatnya menjadi orang asing. Kita akan mulai belajar dengan siapa kita berjalan, bagaimana harus menata diri, beradaptasi lagi, menjadi orang asing lagi.

Karena saya sangat suka menuliskan detak-detak jarum selama perjalanan, inilah apa yang mampu saya rekam saat berada di sana.

29 Maret 2014

08.00 dari daerah Jaten menuju Cemoro Kandang
09.30 Cemoro Kandang. Menitipkan motor dan persiapan.
09.45 Mencari makan, beli kebutuhan yang masih kurang, jalan ke Cemoro Sewu. Harusnya ada retribusi, tapi lanjut saja karena semua hal bisa dinegosiasikan 😛
10.00 Jalan dari Sewu dengan terengah-engah. Setelah pendakian terakhir di tahun 2012, fisik ini rasa-rasanya sudah terlalu asyik dengan dunia nyata yang tiada menguras tenaga.
11.20 sampai di pos 1 (1 jam 20 menit dari pos pencatatan). Ada warungnya. Menyediakan es teh, gorengan anget, aneka minuman, tempat berteduh full tikar. Oh..betapa nikmatnya. Tanpa harus bersusah payah, makanan dan tempat berteduh telah siap sedia.
11.35 jalan dari pos 1 menuju pos 2. Jalan mulai berbatu dan sedikit celah bertanah. Kanan kiri batu-batuan. Sudah mulai nyaman dengan keadaan perjalanannya.
13.10 sampai di pos 2 (1 jam 35 menit). Penuh manusia posnya. Ramai sekali. Duduk beristirahat dahulu sembari berusaha mengumpulkan kembali ceceran tenaga yang telah menguap.
13.30 berangkat dari pos 2 menuju pos 3.
14.30 sampai di pos 3 (1 jam). Makan siang yang sudah dibeli dari bawah tadi. Seloow dulu. Kita beristirahat dulu lah..
16.15 sampai pos 4.  ( 1 jam 15 menit). Medan bebatuan terjal. Pos 4 tidak ada rumahan. Hanya ada shelter untuk 1 tenda. Tapi ada spot untuk melihat pemandangan.
16.55 sampai di shelter besar dan bisa untuk ngecamp. Tapi tidak ada sumber air.
17.10 mulai jalan ke pos 5. Jalanan bagus untuk foto. Setapak panjang penuh bebatuan.
17.30 sampai di sendang drajat (1 jam 35 menit). Warung ada di sini. Pelanggan yang tiada henti datang silih berganti. Order minuman atau makan bisa di sini. Tempat luas untuk tidur. Tidur sini.

Menikmati sendang drajat di pagi hari dengan tempelan-tempelan stiker calegnya, matahari terbit yang telihat malu-malu tertutupi kabut, dingin pagi yang menusuk, lalu lalang para pendaki yang memenuhi warung kecil itu.

perjalanan

30 Maret 2014
06.10 berangkat ke warung mbok yem.
06.20 sampai sudah di warung tertinggi di Jawa atau mungkin di Indonesia.
06.45 menuju puncak ditemani kabut yang belum juga beranjak meninggalkan lawu
07.20 sampai puncak. Ramai sekali di atas. Penuh dengan orang-orang yang ingin mengabadikan momen di tempat yang tidak semua orang bisa mencapainya.

Pertanyaan saya, apakah makna tercapainya puncak saat pendakian itu? Memamerkan kedigdayaan karena berhasil di gunung? Menunjukkan supremasi di tanah tinggi? Atau terdiam karena tak mampu berkata jika pada akhirnya kamu mampu dan kamu bisa? Ataukah sujud tersungkur melihat betapa kecil, dan tak berdayanya kita di hadapan semesta-Nya? Ah, toh tiap orang memiliki tujuannya masing-masing.

07.30 bergerak turun ke bawah. Berhubung fisik saya masih oke, lari-larian dah..
07.40 sampai di warung mbok yem lagi. Beristirahat dahulu.
08.08 bergerak menuju house of bottle. Berfoto sebentar, lalu lanjut menuju pos 5. Pos 5 hanya sebentuk per3an jalan untuk menandakan arah mana yang bisa kamu ambil. Ini adalah pertigaan menuju berjalan di atas awan kata teman saya saat 8 tahun lalu saya menjejak tanah ini.
09.00 sampai di pos 4 (1 jam). Istirahat makan. Dan memori 8 tahun yang lalu saat pendakian bersama WHO pun menyeruak. Seolah ada pertunjukan layar tancap di dalam memori saya. Saya duduk dan ternganga bahwa waktu telah berlalu dengan cepatnya.
09.20 bergerak menuju pos 3.
10.00 sampai di pos 3 (40 menit). Perjalanan seringnya istirahat bukan di pos.
12.00 sampai di pos 2 (2 jam). Minum dan istirahat sebentar. Setelah melewati jalur turunan yang licin dan memaksa kaki untuk menahan beban dengan sangat.
13.00 pos 1 (1 jam). Ngesenek dulu, mengais-ais tenaga dulu. Dan, kaki ini pun mulai menunjukkan ketidakharmonisan dengan otak yang ingin segera sampai di bawah. Kesalahan fatal akibat terlalu berfoya-foya dengan tenaga yang tidak dikelola degan baik dari atas. Alhasil petaka berjalan menyemutlah yang terjadi.
14.00 (1 jam) sampai di base camp cemoro kandang dengan terengah-engah dan akhirnya, usailah juga..

wajah lawu

Itu adalah kisah saya di awal tahun ini. Banyak pemahaman saya telah berganti. Saat pendakian dan menemukan banyak warung dengan kemudahan bagi pendaki, saya begitu tertariknya bisa menikmati segelas es teh dan warung di puncak gunung. Tetapi, mendengar dan membaca cerita perjalanan yang lain, kemudian keasyikan itu sepertinya hilanglah sudah.

Buat apa kalau bahkan di tempat yang jauh pun, di tempat tinggi itu, bahkan kamu masih bisa menikmati kenikmatan seperti di bawah? Itu bukan lagi gunung sunyi yang di sana kamu harus berjuang dan mencoba bertahan di tempat asing. Kamu bahkan tidak bisa menemukan keasliannya lagi jika semua diubah untuk kemudahan manusia. Lantas, saya merindu Lawu yang 8 tahun lalu itu. Yang dengan kesunyiannya menghadirkan sensasi berjuang dan bertahan hidup. Bukan kenyamanan, tapi ketidaknyaman. Buat apa kita berjalan jika kita mencari kenyamanan? Bukankah itu sudah kita peroleh di bawah? Bukankah kita mendaki untuk menemukan hal lain? untuk menikmati apa yang tidak bisa kita nikmati di bawah? Menikmati ketidaknyamanan dan keterasingan? Ah, entahlah… Mungkin saya hanya ingin dia ada dan hidup sebagaimana dia semestinya dalam pikiran saya.

*Suatu tempat yang sama, dengan waktu dan orang yang berbeda. dituliskan kembali di surakarta dan jakarta, oktober 2014*

Advertisements

tuliskan jejakmu di sini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: